Semuanya Akan Kembali pada-Nya

IMG-20170430-WA0041

“Terus…terus…terus!”, kata yang akan selalu terngiang dalam ingatan, kata yang membuatnya sakit, kata yang membuatnya tetap lemah terkulai, kata yang membuatnya bingung harus bagaimana, kata itu adalah bentuk dari ke-egois-anku, ketidak pedulianku, ketegasanku. Yang ku yakini saat itu, solat dalam kondisi sakitpun harus tetap dijalani. Hal ini pernah terjadi sebelumnya, ku hanya perlu melaluinya, “Ini akan berlalu”. Terkadang, ku anggap sepele, karena sekali ku telah melaluinya, yang kedua akan terlalui juga, namun pemikiranku tidak bisa melawan takdir Allah yang satu ini, tidak bisa dimajukan atau dimundurkan.

“Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (Al-Munafiqun :11)

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (Q.S. Al-A’raf: 34).

Sesuatu yang mutlak ini terlupakan sejenak dari pikiranku. Ku fokuskan, ini akan berlalu, akan sembuh walau tidak bisa kembali seperti sedia kala, semua bercampur aduk, apa yang harus ku siapkan selepas ini, bagaimana mengatur waktu menjaga, merawatnya dan tetap bekerja. Tidak ingin berpikir sesuatu yang bisa membuatku pesimis, mungkin lebih tepatnya ku takut tuk memikirkannya.

Tubuhnya perlahan kehilangan fungsi, berawal dari tangan kanan tidak bisa digerakkan, lalu kaki tangan. Saat itu dia merasa ingin buang air kecil, lalu bapak dan ku membopong ke kamar mandi, saat itu terbersit, ternyata khayalanku bisa menggendongnya di punggungku ketika ia tua nanti tidaklah mudah. Sejenak terpikir ternyata berat, akan sulit nantinya, kekhawatiran berkecamuk dalam benakku, namun itu ku kesampingkan. Pagi itu ia tak banyak minum, namun harus buang air kecil sebanyak 3 kali. Seketika itu membuyarkan khayalanku, Astaghfirullah, bahkan ku berpikir akan merepotkan nantinya. Ku sibuk berangan apa yang akan ku hadapi kedepannya, kesulitan…bagaimana mengatasinya…menjalaninya dengan baik dan bersabar totalitas.

Ketika menjalani masa perawatan, saat menyuapinya ku berhenti di tengah jalan dan kuserahkan ke bapak untuk melanjutkan. Kesabaranku memang buruk, karena fungsi mulut nya untuk bergerak mulai berkurang, maka lama untuk mengunyah dan menelan.

Esok paginya, jadwal untuk scan otak tiba dan ketika hasilnya keluar, tiba-tiba dokter menghubungiku untuk segera di rujuk ke Rumah sakit yang fasilitasnya lebih lengkap karena ternyata ada pendarahan sebesar kepalan tangan mungil di otak sebelah kanannya. Diagnosa sementara dokter adalah aneurisma. Aneurisma adalah pelebaran pembuluh darah abnormal terlokalisasi disebabkan oleh melemahnya dinding pembuh darah. Walaupun pelebaran pembuluh darah dapat menekan organ penting, komplikasi paling berbahaya pada aneurism adalah pecahnya aneurisma ketika meningkat pada ukuran tertentu. Aneurisma dapat terjadi pada arteri manapun, tetapi pecahnya aneurisma pada aorta atau otak biasanya fatal. Aneurisma biasanya tidak terdeteksi secara klinis dan ditemukan tidak sengaja atau saat pecah. Dan sepertinya gejala sakit kepala telah berlangsung selama sebulan pasca operasi subdural hematoma 6 bulan lalu. Berobat jalan yang berlangsung selama sebulan telah dijalani, saat terakhir ramadhan berangsur membaik, sehingga dokter menetapkan untuk konsultasi sebulan sekali saja, namun belum genap sebulan, kejadian tersebut terjadi.

Sesampai di rumah sakit umum, dokter bedah syaraf mengatakan kalau besok siap maka bisa langsung di operasi, namun malamnya sudah tidak sadarkan diri, semua anggota tubuh lemas dan kaku, mata tidak bisa di buka, tidak merespon gerakan ataupun cahaya, hanya suara dari tenggorokan yang terdengar sekali-kali seperti suara mengerang. Ku tak tahu apa yng sedang dialaminya, Apakah rasa sakit? Apakah ingin berbicara sesuatu namun tak bisa? Apakah ingin membuka mata namun tak bisa? Hingga dokter spesialis saraf mengatakan untuk banyak berdoa, karena kondisi ini tidak mudah, dan harapan sembuh kian mengecil. Ku coba tetap menegakkan tubuh untuk mengatakan kepada keluarga, bapak dan mbak-mbak ku. Lagi-lagi ku tidak mau berpikir buruk.

Ku merajuk dan merayu tiap solat pada Allah, ku berjanji pada-Nya untuk kedua kali nya dalam hidupku, untuk lebih berbakti, bersabar dan berkata lembut. Ku sangat memohon, hatiku mulai bergetar,bergoncang takut, khawatir dan sedih. Kehilangan orang yang kita cintai tidaklah mudah. Seketika ayat itu terngiang di pikiranku : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada-Ku kalian dikembalikan”. (Q.S. Al-Ankabut; 57). Aku tidak bisa untuk menolaknya, mengundurkannya apalagi menghentikannya. Ketika suhu panas tubuh yang kian naik, tensi yang makin naik, hingga tubuhnya kejang hebat malam itu. Tepat ketika ku meng-tayamumkannya dan mbakku melantunkan ayat suci Qur’an disampingnya. Ku bisikkan di telinganya istighfar dan syahadat, namun ia tak bisa mengucapkannya karena kondisinya yang tak sadarkan diri. Air matanya berlinang, tubuhnya masih hangat…namun nadinya telah berhenti berjalan dan jantungnya berhenti berdetak untuk selamanya.

Ibu…dipemakamanmu kuterus bermunajat kepada Allah, menengadahkan wajah ke langit, memohon pada-Nya” Ya Allah tolong lembutkan langkah malaikat-Mu, Lembutkan suara malaikat-Mu ketika bertanya pada ibu hamba…lapangkan kuburnya…terima amal ibadahnya…ringankan siksa kuburnya ya Allah Ya Rabb…aamiin. Ya Rabb ku mohon pada-Mu.

Teringat ketika Hari raya ‘Idul Fitri, ia meminta maaf karena telah banyak merepotkan selama sakit,” sama sekali tidak merepotkan, karena mama’ adalah ibuku”(jawabku).

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Fokus selamanya berdoa pada Allah, semoga Allah senantiasa menjaga keistiqomahan di jalan-Nya hingga akhir hayat…aamiin.

Karena Semua akan Kembali pada Allah SWT.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s