Aku Tidak Memiliki Kemauan Menjadi Guru, Tapi Fase Itu Merubahnya

Semasa kecil, aku berfikir menjadi seorang guru itu… suatu hal yang hebat, disegani murid dan orang lain, pintar, berwibawa dan bijaksana. Ketika ku mulai memasuki bangku Sekolah Dasar, kesan pertama yang kudapatkan adalah; “Waaah banyak sekali tas sekolah yang beraneka macam… (nampak materi banget)”. Saat lonceng masuk berbunyi, para murid masuk ke dalam kelas…hening suasana mengiringi langkah ibu guru menuju tempat duduknya. Dimulai dengan salam, perkenalan dengan bu guru dan antar teman. Tidak banyak senyum yang kudapatkan, senyum bu guru terkembang hanya dengan anak yang pintar saja. Di kelas 1, ku sudah membuat masalah yang cukup heboh, melibatkan anak guru agama. Sehingga guru agama yang merupakan ibunya memarahiku habis-habisan dan mencubit atau meneyot(bahasa jawa) pipiku sebanyak 3 kali. Aku hanya tertunduk diam, kesalahpahaman yang tidak bisa dan tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Apa karena tidak berani menjelaskan atau lebih takut kalau menjelaskan tambah kena marah. Setelah perkara ini terjadi, guru kelasku acuh tak acuh saja dan tidak menanyakan kejelasan perkara lebih lanjut.

Bermula dari perkara ini, mind set ku tentang seorang guru berubah dari 100% baik, menjadi 50 %. Masih di masa SD dengan wali kelas yang sama sebanyak 3 tahun ku sudah terbiasa dengan sikap guruku, beranjak wali kelas yang lain lebih baik dari pada cuek wali kelas yang lama, yaitu pakai pukul dengan mistar kayu dan patahan kaki kursi, melalui mediasi tangan murid yang piket kelas. Jadilah murid sekelas yang piket, menjadi ajang balas dendam antar murid, karena minggu lalu ia yang memukul, sekarang berganti dengan tenaga yang lebih besar murid lain balas memukulnya.

Mind set berubah dari 50 % menjadi 30 %. Beranjak ke kelas yang lebih tinggi, lebih baik lagi, bukan melalui tangan murid lagi, tapi langsung bu gurunya yang memukul, dan alat yang digunakan untuk memukul lebih meningkat yaitu rotan kemoceng. Yang ini pedihnya lebih terasa, selain dipukul pakai rotan, ketika salah jawab hukumannya kepala dijitak langsung dengan semangat tenaga ekstra. Selain itu menasehati murid dengan cara dimuka kelas, semua murid tahu, menyalahkan, membuat murid itu begitu malu di depan teman-temannya. Selepas kejadian ini, mind set berudah dari 30 % menjadi minus (-).

Kenangan indah tentang seorang guru dihiasi dengan kekerasan, jadi bukan hanya rumah tangga aja yang ada KDRT. Sekolah Dasar pun ada KDSD (Kekerasan dalam sekolah dasar). Tapi hal ini tidak terjadi disetiap sekolah, hanya sekolah tertentu saja. Dari kenangan luka yang menganga ini, ku tidak ingin menjadi seorang guru. Namun ternyata waktu kuliah aku memilih pendidikan Bahasa Inggris sebagai jurusanku. Penolakan diri untuk tidak menjadi seorang guru tetap mendasari mind set ku. Mendapat tawaran untuk mengajar privat pun ku tolak, dan lebih memilih untuk menjadi penyiar dan pedagang. Banyak yang harus kita kontrol ketika menjadi seorang guru, seperti emosi kita menghadapi kreativitas anak yang tanpa batas, aktifnya anak dan pribadinya serta daya tangkap mereka yang berbeda-beda. Bahkan ini berlanjut ketika mendapat tawaran mengajar di homeschooling, pikiranku tetap menolak sehingga tidak ku ambil kesempatan itu. Pernah mencoba melamar menjadi guru pun, akhirnya ku mundur.

Hingga suatu saat, ku diminta untuk mengajar ngaji anak tante ku, dimana ku selama diperantauan tinggal di rumah tante. Hal ini juga diminta oleh Mbah (nenek dalam bahasa jawa) ku untuk mengajar ngaji. Kata Mbah, “kasihanlah kalau sampai besar sepupuku gak bisa ngaji dan sayang juga ilmuku tidak diajarkan.” Pertama ku menolak, tapi ya…kalau itu hanya sepupu gak apalah. Terhitung memberi hal yang bermanfaat untuk saudara. Selama ku mengajar, ku menggunakan perjanjian dengan sepupuku. Hal ini kudapatkan dari hasil riset skripsi ku di Homeschooling yang ada di palembang 2012 lalu. Cara ini cukup efektif untuk mendisiplinkan mereka, dengan kesepakatan hukuman yang disetujui bersama bila terlanggar, terkadang hukumannya istighfar, berlari, push up dan potong uang jajan untuk infak dhuafa. Kala itu, diriku telah bekerja di salah satu Lembaga amil Zakat di jambi. Waktu sore yang kosong dari jam 17.00 – 18.00 wib kugunakan untuk mengajar ngaji dari hari senin hingga jum’at. Mungkin bagi sepupuku, hal yang mereka jalani ketika belajar dengan ku adalah hal yang cukup berat. Disiplin waktu dan cara belajar mereka betul-betul kutekankan, prinsipku tidak ada kekerasan dalam belajar-mengajar, cukup keras pada dirimu sendiri, lawan malas diri dengan disiplin dan semangat belajar untuk tahu pedoman kita Al-qur’an mengajarkan apa pada kita dengan belajar mengaji.

Pertama mengajar, ku cukup tak sabar untuk mentoleransi keterlambatan kehadiran dan lamanya menangkap setiap hal yang diajarkan. Namun perlahan, ku belajar memahami, kalau pemahaman seorang anak itu berbeda-beda, dan cara membuat mereka paham pun berbeda-beda. Ada anak yang daya tangkapnya cepat ada juga yang butuh proses perjuangan yang lebih untuk melekatkan daya tangkapnya dalam pemikirannya. Terkadang mereka protes dan merajuk, bahkan satu jam ku gunakan bukan untuk mengajar tapi menasehati.  Alhamdulillah, para sepupuku tercinta bisa melaluinya dengan baik, dan keduanya yang smp hampir Al-qur’an sedang yang SMA hampir menamatkan Qur’an nya. Butuh proses yang agak lama, tapi ketika kita menikmati proses itu, mengajar bukanlah hal yang sulit.

Sekarang pun, aku telah mencoba menjadi guru privat mengaji dan bahasa inggris, dicoba untuk anak Sekolah Dasar, dan mencoba mengerti kepribadian mereka dan belajar menyemangati mereka. Jika mereka merajuk, maka seharian mereka tidak mau belajar, maka cara jitu ku yaitu membuat mereka tersenyum dan bermain dengan mereka. Menurutku cara ini cukup efektif mengembalikan mood. Kesadaran untuk mengajar itu timbul, ketika kita mulai untuk mengajarkan sesuatu dengan rasa cinta pada generasi selanjutnya, menempatkan mereka dalam sikap penghargaan diri mereka bahwa mereka lah penerus Dakwah dan Bangsa. Para anak-anak itu butuh bimbingan, butuh ilmu yang bisa mereka gunakan untuk bekal menjalani hidup.

Hadits Bukhari 4639
حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَدٍ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ قَالَ وَأَقْرَأَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي إِمْرَةِ عُثْمَانَ حَتَّى كَانَ الْحَجَّاجُ قَالَ وَذَاكَ الَّذِي أَقْعَدَنِي مَقْعَدِي هَذَا

“Orang yg paling baik di antara kalian adl seorang yg belajar Al Quran & mengajarkannya. Abu Abdirrahman membacakan (Al Quran) pada masa Utsman hingga Hajjaj pun berkata, Dan hal itulah yg menjadikanku duduk di tempat dudukku ini. “[HR. Bukhari No.4639].

Wallahu’alam.

Artikel ini diikut sertakan dalam lomba menulis guru dan orang tua yang diselenggarakan oleh http://www.sekolah-anak.com dan http://motivatorkreatif.wordpress.com serta Komunitas Guru Inspiratif

poster-lomba-menulis-saat-aku-jatuh-cinta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s