“Berharap”

???????????????????????????????

Embun pagi begitu menyejukkan, kesunyian malam begitu menenangkan jika kita melaluinya dengan bersyukur pada Allah SWT.

Berharap dalam kehidupan di hari esok embun pagi yang menyejukkan dan kesunyian malam akan terulang.

Air yang jernih begitu menyegarkan, membersihkan  tubuh dan menghilangkan hausnya dahaga akan lebih nikmat rasa syukur bisa menikmatinya.

Berharap selama sisa hidup bisa tetap mendapatkan air yang jernih.

Dua hal yang biasa menghiasi keseharian kita yang telah Allah berikan dengan cuma-cuma di dunia ini, harapan kita semua agar semuanya akan terus bisa kita dapatkan dan rasakan selama kita hidup.

Berharap, saya rasa … semua manusia berharap. Berharap akan kesenangan, kenikmatan, kemapanan, mencintai, dicintai, menyayangi, disanyangi, dihargai,dihormati…semua yang sifatnya keinginan manusia dalam masa yang singkat atau lama dan terus-menerus. Kita mengenal berharap ini dengan kata “Roja’.

Syaikh Utsaimin berkata: “Roja’ adalah keinginan seorang insan untuk mendapatkan sesuatu baik dalam jangka dekat maupun jangka panjang yang diposisikan seperti sesuatu yang bisa digapai dalam jangka pendek.” (lihat Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 57-58) Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan berkata: “Asal makna roja’adalah menginginkan atau menantikan sesuatu yang disenangi…” (Hushuulul Ma’muul, hal. 79).

Syaikh Zaid bin Hadi Al Madkhali berkata: “Roja’ adalah akhlak kaum beriman. Dan yang dimaksud dengannya adalah menginginkan kebaikan yang ada di sisi Allah ‘azza wa jalla berupa keutamaan, ihsan dan kebaikan dunia akhirat.

Kemudian, akankah ketika kita berharap, semua harapan kita akan langsung Allah berikan pada kita,? Seperti contoh, besok saya berharap ada mobil fortuner terparkir di halaman rumah.

Tiba-tiba berkhayal…Jreeeng ada mobil fortuner sudah terparkir di halaman. Gubrak besok harinya saya, bila ternyata tidak ada fortunernya. Terlalu berharap tanpa usaha hasilnya hanya akan ada di pikiran kita, tidak terealisasi.

Roja’ haruslah diiringi dengan usaha menempuh sebab-sebab untuk mencapai tujuan…” (Thariqul Wushul, hal. 136) Adapun roghbah ialah rasa suka mendapatkan sesuatu yang dicintai (Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 59). Maka apabila seseorang berdoa dan menyimpan harapan yang sangat kuat tercapainya keinginannya maka inilah yang disebut dengan roghbah (Hushuulul Ma’muul, hal. 87)

Tapi, bukan berarti kita tidak boleh berharap, karena berharap merupakan salah satu pilar untuk kita dekat dengan Allah SWT.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah sesungguhnya  penggerak hati menuju Allah ‘azza wa jalla ada tiga: Al-Mahabbah (cinta), Al-Khauf (takut) dan Ar-Rajaa’(harap).

Wallahu’alam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s