Teguran di balik kelalaian Seorang Akhwat

Image

Sebutlah namanya Aya, seorang akhwat yang menjalani KKN bersama teman-teman beda jurusan (bukan ikhwah) dan fakultas di daerah yang cukup sulit masalah jaringan telekomunikasi dan air.

Rapat dimulai. Ketua KKN posko 5 mulai membahas permasalahan mengenai tempat tinggal anak-anak posko 5 yang kekurangan air. Memang di desa tempat kami KKN bermasalah dengan air, masyarakat di Desa ini mendapatkan air dari ledeng yang disalurkan ke tiap rumah 1 kali per-3 hari selama 10 menit per rumah dalam 1 hari secara bergiliran. Dengan kondisi seperti ini tentu menyulitkan bagi kami untuk menghemat air. Anggota posko 5 berjumlah 11 orang, bak mandi tempat kami tinggal hanya berukuran 1,5×1 meter dan digunakan untuk BAB,BAK, cuci muka, berwudhu, masak dan cuci piring selama 3 hari tidak lah cukup. Awal penyebab masalah ada di rapat ini, pembahasan rapat untuk menghemat pemakaian air, hingga aya bertanya pada ketua posko,”Apa berwudhu untuk solat tahajud juga tidak boleh ? Ya tidak boleh juga, jawabnya. Hingga berakhir rapat aya hanya bisa diam.

Ketika berada dalam kamar, aya ingin curhat dengan teman nya di posko lain, ia ceritakan mengenai tidak boleh berwudhu untuk tahajud, lalu temannya bertanya apa wakil posko  masih suka marah-marah ?, aya jawab ia.(untuk mempermudah diganti jadi kata aku dan bukan aya ya…) Temanku tahu waka posko ku pemarah, yaitu saat ada rapat gabungan di kantor lurah waka posko ku emosinya meluap, karenanya temanku bertanya hal tersebut. Saat ku cerita melalui telepon ada 4 teman ku yang juga tidur di kamar.

Tapi tentunya, ku tetap menjalankan tahajud dan berwudhu dengan wajibnya membasuh dan mengusap sebanyak 1 kali saja. Seminggu kemudian, tanpa ku sangka dan duga, temanku menceritakan apa yang ku ceritakan padanya ditelepon kepada teman-teman poskonya. Dan tentunya ini jadi boomerang bagiku. Salah satu teman wanita yang sekelas dengan ketua dan waka posko ku yang juga teman seposko dengan teman tempatku curhat, menceritakan bahwa ada cerita yang beredar seperti pelarangan tidak boleh wudhu tuk solat tahajud dan waka posko yang suka marah. Maka jadilah, ketua dan waka posko menanyakan kepadaku dengan nada yang tinggi ketika rapat tengah berlangsung dengan teman-teman seposko. Redaksi nya adalah ku sering pergi ke posko temanku hanya untuk menceritakan hal tersebut kepada posko lain, seingatku yang kuceritakan adalah ku berendam lama di dalam sungai karena ada bapak-bapak yang juga mandi di sungai itu lebih kurang selama setengah jam, memang kala itu ku terlalu membesar-besarkan dengan mengatakan berjam-jam, tapi kalau di kalkulasikan berapa kali ku berendam dalam sungai menunggu bapak-bapak yang juga mandi di sungai barenga teman-temanku (cewek) yang lain, sehingga temanku terlalu lama menunggu ku dan mengancam untuk meninggalkanku. Karena takut di tinggal, dengan kondisi basah ku berlari cepat ke atas tempat untuk mengganti baju tanpa sandal.

Aku menganggap ini sebuah penderitaan, ku mencoba bertahan berendam dalam sungai karena takut akan auratku yang terlihat oleh yang bukan mahramku. Ketika mandi di sungai aku sendiri yang memakai jilbab. Setiap kali mandi, ada bapak-bapak yang juga mandi, merupaka penyiksaan bagi batinku, tapi yang namanya sungai kan pemandian umum. Ingin mandi malam kayaknya gak mungkin karena jalan ke sungai cukup jauh di hutan dan jalannya penuh dakian dan turunan. Dengan alas an ini juga lah aku membeli air gallon untuk bisa mandi dirumah dengan tidak mengkhawatirkan akan aurat yang terlihat oleh yang bukan mahramku.

Ok, kembali ditanya apa mauku dengan bicara seperti itu kepada posko tetangga, padahal kesepakatan awal untuk menjaga nama baik posko, dengan kejadin ini malah tercemar. Ya aku sendiri tidak menyangka temanku akan menceritakan pada teman-temanny di poskonya. Maka yanghany bisa ku jelaskan adalah bahwa yang ku bicarakan dan lakukan di sana adalah masalah numpang mandi dan berlama-lama berendam di sungai ketika ada bapak-bapak yang datang untuk mandi juga dan masalah pelarangan wudhu saat tahajud adalah curhatku melalui telepon pada temanku itu. Hanya itu, karena ku sadar kalau ku belum dewasa dalam menangani permasalahan yang terjadi dengan kata lain akhwat belum matang.

Lepas seminggu masalah ini berlalu, teman cowok posko ku memulai cerita yang baru ketika rapat, mengenai masalah aku dan 3 orang temanku yang juga mandi dirumah ternyata menyebabkan tempat air pembuangan jadi penuh dan meluap sehingga mengalir ke tanah tetangga. Dia bertanya, sebenarnya kenapa aku harus mandi di rumah, kalau bisa mandi di sungai ini curhatan wak yang punya rumah, kalau 2 orang temanku yang berasal dari Malaysia bisa di maklumi oleh pemilik rumah karena mungkin di tempat mereka tidak mandi sungai. “kenapa aku tidak mau mandi disungai, karena masalah aurat tentunya, namun ku berpikir lagi, untuk menjaga aurat sendiri aku tidak boleh merugikan orang lain” (ini hanya dalam pikiranku). Aku tidak bisa mengatakan apa-apa karena aku baru sadar kalau itu merugikan yang punya rumah. Jadi aku tidak berargumen dan hanya mengiyakan untuk tidak lagi mandi di kamar mandi tempat tinggal posko kami.

Yang aku herankan dan sesali adalah, kenapa hal yang bisa langsung dibicarakan secara pribadi denganku, juga harus dipublikasikan didepan teman-teman yang lain, belum lepas shock ku atas kejadian minggu yang lalu. Aku berpikir, apakah begini cara nak pesantren menyelesaikan masalah, aku juga pasti tidak akan melanjutkan mandi di rumah kalau memang itu merugikan yang punya rumah. Menurutku untuk menyelesaikan masalah awalnya sunnah rasulullah adalah tabyyun terlebih dahulu, menanyakan kebenarannya terlebih dahulu, jika tidak bisa di selesaikan saat tabayyun baru di bawa ke majlis rapat terbuka, tentunya agar kita tidak menyinggung perasaan saudara kita. Tapi mungkin yang punya rumah tidak enak bilang langsung kepada kami berdua, dengan pemakluman 2 temanku yang orang Malaysia. Terkesan tidak adil menurutku, tapi yah namanya juga numpang, tentunya harus menjaga perasaan yang punya rumah. Ku berbicara juga selepas rapat denga temanku yang lain, seharusnya tidak perlu di utarakan saat rapat, kan bisa langsung ngomong kalau yang punya rumah keberatan aku mandi di dalam rumah, ia bilang itu watak yang punya rumah, kami juga paham bagaimana kebiasaan yang punya rumah. Pemilik rumah adalah seorang ibu dengan 2 orang anak, dan yang tinggal dengan nya saat itu adalah anak laki-lakinya yang kelas 1 SMA.

Kalau direnungkan lagi, ini teguran untukku, dimana teman-teman akhwat yang lain menetapkan anggota posko yang cewek untuk selalu memakai jilbab ketika berada di dalam maupun di luar rumah, aku lupa dan tidak menyarankan itu waktu rapat awal di posko, sehingga aku membiarkan maksiat berupa pengumbaran aurat berkelanjutan selama 2 bulan KKN.

Aya adalah orang yang bergolongan darah A. Untuk orang yang bergolongan darah A, masalah seperti ini tidak bisa dengan mudah pergi begitu saja dari hati dan pikiran, akan tetap terjaga di pikiran hingga bertahun-tahun lamanya. Hal ini tentunya begitu menyesakkan dada. Astaghfirullah al’adzim.

Mencoba membuat cerita non fiksi, seru juga…..

 

 

 

Iklan

3 respons untuk ‘Teguran di balik kelalaian Seorang Akhwat

  1. Aya adalah orang yang bergolongan darah A. Untuk orang yang bergolongan darah A, masalah seperti ini tidak bisa dengan mudah pergi begitu saja dari hati dan pikiran, akan tetap terjaga di pikiran hingga bertahun-tahun lamanya. Hal ini tentunya begitu menyesakkan dada. Astaghfirullah al’adzim.
    ===
    walau cuma fiksi, bagusnya tidak usah dihubungkan golongan darah dengan sifat. sifat bisa berubah jika kita berusaha dan izin Allah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s