Apa Kau Mendengarkan?

“Tolong berhati-hati lah sedikit dalam bekerja, jangan bertindak sembrono, agar tidak merugikan diri sendiri dan orang di sekitar mu”, seorang ibu kembali menasihati anaknya.

Mendengar hal ini, tentunya banyak respon berbeda yang di berikan oleh para anak, ada yang mengeles dengan membicarakan hal lain dengan orang lain pula, ada juga yang mengatakan “ya ibu baiklah, maafkan diriku ya”, ada juga yang berkata “cerewet banget sih bu, suka-suka aku dong (komen: Astaghfirullah), ada yang masuk kanan keluar kiri yang berarti kata-kata ibunya tidak bermakna atau pun berpengaruh baginya.

Hayoooo…..dulu kalau di nasehati sama ibunya, jawab apa, manut atau melawan ( nyinggung diri sendiri nih).

Membaca SPS karya Solikhin & Kang Puji Hartono, di halaman 21, ada sebuah kisah seorang ibu.

“Seorang ibu rumah tangga biasa, namun memiliki spirit yang luar biasa. Ibu ini baru saja pulang dari pasar. Namun, ketika sampai di depan rumahnya, dia melihat pemandangan memilukan. Rumah yang ia tinggalkan terbakar! Tiba-tiba ia teringat. Anaknya yang baru berumur 7 bulan berada di dalam rumah itu! Bergegas sang ibu berlari secepatnya, belanjaan di tangannya dilemparkan.

Dia terobos kobaran api yang makin membesar demi menyelamatkan bayinya. Ia terluka, berdarah-darah. Api membakar tubuhnya, kepalanya pening, karena tertimpa genting dan reruntuhan puing. Tapi…ia tak peduli, demi sang buah hati, sakit pun tak ia rasakan. Ia terus menerobos mencari-cari, dia dapati bayinya terkapar dalam keadaan menderita luka bakar.

Buru-buru ia gendong, tertatih-tatih menerobos keluar dari api yang berkobar. Ia membelai sang anak, dan bergegas mencari pertolongan ke rumah sakit terdekat.

Jibaku sang ibu membuatnya tak secuil pun merasakan pedih nya sakit dan luka. Fokus pada buah hatinya. Cintanya..”Anakku-anakku….” hal inilah yang ada dalam benaknya. Seluruh potensi, kekuatan dan daya upaya pun tertuju untuk anaknya.

Ketika sang ibu dirawat di rumah sakit, barulah ia merasakan sakit. Dia baru sadar, ternyata tubuhnya penuh dengan luka bakar. Kapan sang ibu merasa sakit? Bukan ketika menerobos kobaran api, tapi ketika sang anak dalam perawatan rumah sakit. Saat tanggung jawab perawatan di alihkan kepada pihak rumah sakit, dan dia pun sendirian. Ketika memikirkan dirinya sendirian, tubuhnya yang penuh luka, kaki dan tangannya yang penuh darah, saat itulah pedih nya mulai terasa. Sakit itu terasa muncul tiba-tiba, ketika ia memikirkan dalam kesendirian.

“Kita tidak merasakan sakit ketika kita fokus untuk memberi manfaat pada orang lain, namun ketika kita memikirkan diri kita sendiri maka kita juga akan merasakan sakit yang lebih”.

Terkadang sebagai anak, kita sering mengabaikan nasihat ibu kita, kita juga lupa pengorbanan besar yang telah ia lakukan untuk kita hingga bisa melihat indahnya dunia ini. Yang sering kita ingat adalah bahwa ibu kita terlalu cerewet terhadap kita, tapi kalau dipikir-pikir berbahagia lah yang masih bisa mendapatkan cerewet dari ibunya, karena banyak di luar sana yang sudah tak bisa mendengar kan suara ibunya apa lagi cerewetnya.

Ibu, adalah seseorang yang sangat di hormati di dunia ini sehngga, ada seorang sahabat yang bertanya pada Rasulullah perihal orang yang harus dihormati di dunia ini, dan jawaban yang muncul adalah 3 nama berturut-turut yang di sebut Rasulullah SAW adalah ibu-mu selepas itu baru ayah-mu.

So, jangan pernah mengabaikan nasihat ibu kita…ok

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s